kesenian warga kepek 2

saat ini bulan januari 2012 warga di tempatku (warga kepek 2) sedang bersaing dalam adu kesenian. yaitu kesenian jathilan dan reog. bayangin dalam satu bulan warga sini mengadakan pertunjukan 2 kesenian tersebut. saya jadi mau tau apasih jatilan dan apasih reog. setelah berselanjar di internet dengan bantuan http://www.google.com ini saya menemukan sedikit tulisan, aku salin disini ya?

Jathilan adalah sebuah drama tari yang menampilkan kegagahan seorang prajurit di medan perang dengan menunggang kuda. Ketika ditampilkan, sang penari menggunakan sebuah kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu yang disebut dengan Kuda Kepang. Penari menempatkan kuda kepang ini diantara kedua pahanya sehingga tampak seperti seorang kesatria yang menunggang kuda sambil menari dengan diiringi alat musik kendhang, bonang, saron, kempul, selompret dan ketipung.

Dalam pertunjukan jatilan juga disediakan beberapa jenis sesaji antara lain pisang raja satu tangkep, jajanan pasar yang berupa makanan-makanan tradisional, tumpeng robyong yaitu tumpeng robyong yang dihias dengan kubis, dawet, beraneka macam kembang, dupa Cina dan menyan, ingkung klubuk (ayam hidup) yang digunakan sebagai sarana pemanggilan makhluk halus dan lain-lain.
Jathilan dikenal sebagai salah-satu bentuk tarian yang paling tua di Jawa. Kesenian ini juga sering disebut dengan nama jaran kepang atau jaran. Tari Jathilan juga merupakan pentas drama yang dibawakan enam ato lebih orang secara berpasangan yang menggunakan seragam serupa. Sebagai tambahan tari ini, juga menampilkan penari yang menggunakan topeng ato barongan. Dengan tokoh-tokoh yang beragam, ada buto ijo(setan) atau barongan (sapi) dll. Mereka muncul kala para prajurit itu berangkat perang dengan tujuan untuk menganggu.
Tidak ada yang mengetahui dan mendefinisikan kapan mulanya tari ini ada. Namun yang pasti, Jathilan berkembang di beberapa wilayah seperti, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Masing-masing wilayah tersebut menampilkan versi masing-masing. Soal cerita, mereka biasanya identik menampilkan lakon yang sama tapi versi.
Tari ini sifatnya fleksibel, bisa ditampilkan dimana saja, saat pesta pernikahan, sunatan atau pada saat pesta maupun festival kesenian rakyat.
Menurut seorang dosen Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Gandung Sudjatmiko, seni ini bersumber dari rakyat jelata.
Hal ini bisa dilihat dari penampilan kesederhanaan pakaian yang digunakan para penari. Mereka mengenakan celana sebatas lutut, kain batik bawahan, kemeja atau kaus lengan panjang, setagen, ikat pinggang bergesper, selempang bahu (srempeng), selendang pinggang (sampur) dan kain ikat kepala (udheng) dan hiasan telinga (sumping). Para penari berdandan mencolok. Tentu sangat berbeda dengan pakaian sebuah pembesar kerajaan yang menggunakan pakaian serba lengkap dan gemerlap. Tarian yang diperagakan pun cenderung berulang-ulang dan monoton dengan komposisi musik yang sederhana, namun dengan penuh semangat.
Identik dengan Kesurupan
Jathilan adalah merupakan drama tari dengan adegan pertempuran sesama prajurit berkuda dengan senjata, dimana tarian ini mengutamakan tema perjuangan prajurit yang gagah perkasa di medan perang dengan menunggang kuda dan bersenjatakan. Namun demikian, masyarakat lebih mengenalnya sebagai sebuah tarian yang identik dengan tarian yang mengandung unsur magis dan kesurupan.
Pada versi aslinya, para penari Jathilan akan melakukan adegan tarian yang terus-menerus tanpa berhenti sambil berputar-putar hingga salah satu dari mereka mengalami apa yang disebut trance (kondisi tidak sadarkan diri tapi tetap menari).
Penonton akan dibuat tegang ketika mereka mulai meraih apa saja yang ada didepannya. Bahkan pecahan kaca bisa dimakan sang penari yang tak merasakan sakit apalagi berdarah sedikitpun. Mereka mengunyahnya laksana menikmati makanan cemilan yang enak dan nikmat. Bagi sementara penonton, memang adegan trance itu merupakan tontonan mengasyikkan. Bagaimana manusia memakan kaca, memakan rumput, mengupas kulit kelapa dengan gigi dan adegan berbahaya lainnya.
untuk reog aku tulis di halaman berikutnya saja ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s